Kartini, Sang Pendorong Kesetaraan Wanita di Bumi Nusantara
Pemikiran-pemikiran beliau memberi inspirasi bagi tokoh-tokoh kebangkitan nasional Indonesia.
Tulisan ini dimuat tanggal 7 May 2024
Raden Adjeng Kartini lahir di Jepara pada tanggal 21 April 1879 saat Belanda masih menjajah Nusantara. Beliau merupakan pelopor kebangkitan wanita di Nusantara agar mendapatkan pendidikan dan hak yang sama dengan pria.
Kartini berasal dari kalangan priyayi atau bangsawan. Ayahnya merupakan seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial mewajibkan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena ibunya bukan berasal dari kaum bangsawan maka ayahnya menikah lagi dengan seorang keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara.
Sampai usia 12 tahun, Kartini bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS). Namun setelah usia 12 tahun, beliau harus tinggal di rumah karena harus dipingit. Berbekal bahasa Belanda yang dipelajari saat sekolah, Kartini muda mulai belajar sendiri, membaca buku, dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda.
Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief dan majalah-majalah yang membahas kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Salah satu majalah yang cukup menarik perhatiannya adalah majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie di mana Kartini sering mengirimkan tulisannya dan dimuat.
Terinspirasi dari buku-buku, koran, dan majalah yang dibaca, tampak tulisan Kartini memiliki pengetahuan yang luas dan tertarik pada kemajuan berpikir wanita di Eropa. Kartini juga sering membahas mengenai kesetaraan antara wanita dan pria, khususnya perjuangan wanita agar mendapatkan kebebasan, pendidikan dan persamaan di mata hukum.
Pada usia 24 tahun, ia diminta orangtuanya untuk menikah. Kartini kemudian menikah dengan K. R. M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang merupakan Bupati Rembang dan telah memiliki 3 istri. Empat hari setelah melahirkan anaknya, Kartini meninggal pada usia 25 tahun pada tanggal 17 September 1904. Beliau dimakamkan di Bulu, Rembang.
Sebelum meninggal, Kartini didukung oleh suaminya untuk mendirikan sekolah wanita di pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang. Empat tahun setelah kematiannya, Sekolah Kartini didirikan di Semarang pada 1912 dan dikelola oleh Yayasan Kartini. Sekolah-sekolah ini kemudian dibuka di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya.
Berdasarkan keputusan Presiden Nomor 108 pada 2 Mei 1964, beliau ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
